Pages

Friday, October 16, 2015

e-Commerce di Indonesia

e-Commerce di Indonesia

Seperti yang kita tahu pada beberapa tahun ini, bisnis e-Commerce menjadi bisnis yang menjanjikan di Indonesia, karena pengaruh gaya hidup masyarakat Indonesia yang sudah mulai berubah dan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Berkembang nya teknologi di Indonesia ini bisa jadi karena meningkatnya penjualan smartphone dan semakin murahnya biaya berlangganan internet, meskipun masih banyak orang yang buta internet, tapi menurut Kemkominfo pengguna internet di Indonesia telah mencapai 82 juta orang atau sekitar 30% penduduk Indonesia pada tahun 2014 lalu dan membuat Indonesia menjadi Negara dengan pengguna internet terbanyak ke 8 di dunia.

Tapi dari 82 juta orang pengguna internet tersebut, menurut riset idEA (Asosiasi e-Commerce Indonesia) hanya sekitar 7% yang menggunakan e-Commerce, berbeda dengan Tiongkok yang memiliki 32% pengguna internet yang menggunakan nya untuk berbelanja di e-Commerce. Meski demikian, riset menunjukan bahwa masyarakat di Indonesia sudah mulai nyaman berbelanja produk mahal di e-Commerce, seperti barang elektronik atau peralatan rumah tangga, meski begitu fashion masih menjadi primadona yang paling banyak dibeli.

Menurut data dari Kemkominfo nilai transaksi e-Commerce di Indonesia pada tahun 2013 mencapai angka  Rp.130 Triliun, ini merupakan angka yang sangat fantastis mengingat bahwa hanya sekitar 7% saja pengguna internet di Indonesia yang pernah berbelanja online. Dan pada tahun 2012 suatu perusahaan e-Commerce di Indonesia mencatat bahwa 41% penjualan mereka berasal dari Jakarta, tetapi enam bulan selanjutnya angka tersebut menurun menjadi 22%, bukan karena daya beli penduduk Jakarta berkurang, namun karena konsumen diluar Jakarta pun sudah mengikuti tren berbelanja online di e-Commerce. 

Namun e-Commerce di Indonesia mempunyai beberapa kendala, seperti kendala pertama ini yaitu kendala rendahnya penetrasi kartu debit dan kartu kredit di Indonesia. Berdasarkan data dari Euromonitor International di tahun 2013, ada 92 juta atau lebih dari 40% akun bank yang terhubung ke kartu kredit dan debit dari total penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta. Jika dibandingkan dengan penetrasi smartphone, angka ini masih rendah karena sekitar 85% orang Indonesia sudah memiliki smartphone yang mana setiap bulannya mereka menghabiskan 661 halaman untuk browsing.

Penyebab kedua kenapa orang Indonesia belum pernah belanja online adalah ketidakpercayaan. Data riset dari Nielsen menyatakan bahwa 60% orang Indonesia masih takut untuk memberikan informasi kartu kredit mereka di internet untuk belanja online, lebih besar dari negara-negara di Asia Tenggara kecuali Filipina. Walaupun jumlahnya masih rendah dibanding negara dengan total penduduk besar lainnya, jumlah pengguna kartu kredit di Indonesia sudah mulai bertumbuh, pada tahun ini diharapkan pengguna kartu kredit di Indonesia akan mencapai angka 16.5 jutaBerbeda dengan kartu kredit, jumlah kartu debit di Indonesia jauh lebih unggul yaitu hampir mencapai 80 juta pada tahun 2013 kemarin.

Ini adalah permasalahan yang harus dipecahkan perusahaan e-Commerce dari sisi infrastruktur dan juga sistem pembayarannya. Perusahaan e-Commerce harus bisa meyakinkan calon customer mereka agar mereka mau berbelanja secara online khususnya untuk target pasar anak muda yang pada umumnya sangat mengetahui perkembangan teknologi. Jika suatu perusahaan e-Commerce  bisa memberikan rasa kenyamanan dalam berbelanja online dan menyediakan sistem pembayaran yang bisa diterima banyak orang, diharapkan akan semakin banyak orang Indonesia yang tidak akan ragu lagi untuk berbelanja, baik menggunakan kartu kredit ataupun debit mereka.

Seperti yang anda ketahui bahwa Indonesia memiliki berbagai macam bank. Banyaknya bank ini termasuk hal yang mempersulit perusahaan e-Commerce untuk menerima sistem pembayaran dari berbagai bank ini. Untuk mengatasi hal ini, beberapa perusahaan e-Commerce di Indonesia seperti Tiket.com dan Traveloka.com menawarkan sistem pembayaran dari 14 channel pembayaran dari berbagai macam bank. Dengan begini, tidak ada lagi alasan bagi konsumen untuk tidak berbelanja online karena masalah pembayaran sudah dipecahkan.

Menurut Fajrin Rasyid, Co-Founder & CFO Bukalapak.com ia menyarankan bagi mereka yang ingin mengelola perusahaan e-commerce agar segera memulai usahanya dan tidak menunda lagi. Harus ada keyakinan bahwa peluang besar bisnis e-commerce itu terbuka lebar, karena bisnis jual-beli online ini hanya butuh modal kecil namun hasilnya sungguh luar biasa (low cost high impact). Apalagi, data idEA menyiratkan bahwa di akhir 2015 pengguna internet di Indonesia akan mencapai 125 juta orang, sebuah lonjakan besar dari 55 juta pengguna tahun 2012. Pengamatan ini berdasarkan pertumbuhan kelas menengah yang makin luas sekaligus menjadi kekuatan pendorong yang sangat besar.

No comments:

Post a Comment