e-Commerce di Indonesia
Seperti yang kita tahu pada beberapa tahun ini,
bisnis e-Commerce menjadi bisnis yang menjanjikan di Indonesia, karena pengaruh
gaya hidup masyarakat Indonesia yang sudah mulai berubah dan perkembangan
teknologi yang sangat pesat. Berkembang nya teknologi di Indonesia ini bisa
jadi karena meningkatnya penjualan smartphone dan semakin murahnya biaya
berlangganan internet, meskipun masih banyak orang yang buta internet, tapi
menurut Kemkominfo pengguna internet di Indonesia telah mencapai 82 juta orang
atau sekitar 30% penduduk Indonesia pada tahun 2014 lalu dan membuat Indonesia
menjadi Negara dengan pengguna internet terbanyak ke 8 di dunia.
Tapi dari 82 juta orang pengguna internet tersebut,
menurut riset idEA (Asosiasi e-Commerce Indonesia) hanya sekitar 7% yang
menggunakan e-Commerce, berbeda dengan Tiongkok yang memiliki 32% pengguna
internet yang menggunakan nya untuk berbelanja di e-Commerce. Meski demikian,
riset menunjukan bahwa masyarakat di Indonesia sudah mulai nyaman berbelanja
produk mahal di e-Commerce, seperti barang elektronik atau peralatan rumah
tangga, meski begitu fashion masih menjadi primadona yang paling banyak dibeli.
Menurut data dari Kemkominfo nilai transaksi
e-Commerce di Indonesia pada tahun 2013 mencapai angka Rp.130 Triliun, ini merupakan angka yang
sangat fantastis mengingat bahwa hanya sekitar 7% saja pengguna internet di
Indonesia yang pernah berbelanja online. Dan pada tahun 2012 suatu perusahaan
e-Commerce di Indonesia mencatat bahwa 41% penjualan mereka berasal dari
Jakarta, tetapi enam bulan selanjutnya angka tersebut menurun menjadi 22%,
bukan karena daya beli penduduk Jakarta berkurang, namun karena konsumen diluar
Jakarta pun sudah mengikuti tren berbelanja online di e-Commerce.
Namun e-Commerce di Indonesia mempunyai beberapa
kendala, seperti kendala pertama ini yaitu kendala rendahnya penetrasi kartu
debit dan kartu kredit di Indonesia. Berdasarkan data dari Euromonitor
International di tahun 2013, ada 92 juta atau lebih dari 40% akun bank yang
terhubung ke kartu kredit dan debit dari total penduduk Indonesia yang mencapai
240 juta. Jika dibandingkan dengan penetrasi smartphone, angka ini masih rendah
karena sekitar 85% orang Indonesia sudah memiliki smartphone yang
mana setiap bulannya mereka menghabiskan 661 halaman untuk browsing.
Penyebab kedua kenapa orang
Indonesia belum pernah belanja online adalah ketidakpercayaan. Data riset
dari Nielsen menyatakan bahwa 60% orang Indonesia masih takut untuk memberikan
informasi kartu kredit mereka di internet untuk belanja online, lebih besar
dari negara-negara di Asia Tenggara kecuali Filipina. Walaupun jumlahnya
masih rendah dibanding negara dengan total penduduk besar lainnya, jumlah
pengguna kartu kredit di Indonesia sudah mulai bertumbuh, pada tahun ini
diharapkan pengguna kartu kredit di Indonesia akan mencapai angka 16.5
juta. Berbeda dengan kartu kredit, jumlah
kartu debit di Indonesia jauh lebih unggul yaitu hampir mencapai 80 juta pada
tahun 2013 kemarin.
Ini adalah permasalahan yang
harus dipecahkan perusahaan e-Commerce dari sisi infrastruktur dan juga sistem
pembayarannya. Perusahaan e-Commerce harus bisa meyakinkan
calon customer mereka agar mereka mau berbelanja secara online
khususnya untuk target pasar anak muda yang pada umumnya sangat mengetahui
perkembangan teknologi. Jika suatu perusahaan e-Commerce bisa
memberikan rasa kenyamanan dalam berbelanja online dan menyediakan sistem
pembayaran yang bisa diterima banyak orang, diharapkan akan semakin banyak
orang Indonesia yang tidak akan ragu lagi untuk berbelanja, baik menggunakan
kartu kredit ataupun debit mereka.
Seperti yang anda ketahui bahwa
Indonesia memiliki berbagai macam bank. Banyaknya bank ini termasuk hal yang
mempersulit perusahaan e-Commerce untuk menerima sistem pembayaran dari
berbagai bank ini. Untuk mengatasi hal ini, beberapa perusahaan e-Commerce di
Indonesia seperti Tiket.com dan Traveloka.com menawarkan
sistem pembayaran dari 14 channel pembayaran dari berbagai macam bank. Dengan
begini, tidak ada lagi alasan bagi konsumen untuk tidak berbelanja online
karena masalah pembayaran sudah dipecahkan.
Menurut
Fajrin Rasyid, Co-Founder & CFO Bukalapak.com ia menyarankan bagi mereka
yang ingin mengelola perusahaan e-commerce agar segera memulai usahanya dan
tidak menunda lagi. Harus ada keyakinan bahwa peluang besar bisnis e-commerce
itu terbuka lebar, karena bisnis jual-beli online ini hanya butuh modal kecil
namun hasilnya sungguh luar biasa (low cost high impact). Apalagi, data idEA
menyiratkan bahwa di akhir 2015 pengguna internet di Indonesia akan mencapai
125 juta orang, sebuah lonjakan besar dari 55 juta pengguna tahun 2012.
Pengamatan ini berdasarkan pertumbuhan kelas menengah yang makin luas sekaligus
menjadi kekuatan pendorong yang sangat besar.




No comments:
Post a Comment